KUBU RAYA, AKCAYA – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kubu Raya tidak hanya dilakukan melalui edukasi gizi dan pendampingan keluarga. Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) juga mengembangkan inovasi berbasis desa melalui budidaya ayam petelur dan kebun gizi sebagai sumber pangan bergizi yang mudah diakses masyarakat.
Inovasi tersebut menjadi salah satu praktik baik yang ditinjau para mitra pendanaan Program PASTI bersama perwakilan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam kunjungan lapangan, Rabu (5/8/2026).
Melalui program tersebut, masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk membudidayakan berbagai tanaman pangan lokal seperti kangkung, bayam, cabai, kacang panjang, gambas, hingga terong. Selain itu, budidaya ayam petelur yang dikembangkan mampu menghasilkan rata-rata 17 hingga 20 butir telur setiap hari untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan keluarga.
Program Director Wahana Visi Indonesia (WVI), Eben Ezer Sembiring, mengatakan pendekatan Program PASTI tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga membangun sistem yang melibatkan seluruh unsur masyarakat agar pencegahan stunting berjalan berkelanjutan.
“Yang membedakan Program PASTI adalah kami tidak hanya melakukan intervensi langsung terkait nutrisi, tetapi juga melibatkan seluruh pihak di desa. Mulai dari pemerintah desa, kader, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat hingga remaja untuk bersama-sama mencegah stunting,” ujarnya.
Menurut Eben, salah satu capaian penting Program PASTI adalah terbentuknya desa model yang mampu mengidentifikasi keluarga berisiko stunting dan menyusun solusi bersama, termasuk memastikan ketersediaan pangan bergizi di tingkat rumah tangga.
Budidaya ayam petelur menjadi bagian dari solusi tersebut. Program ini dikembangkan melalui kolaborasi Program PASTI dengan pemerintah desa, termasuk dukungan pembangunan kandang ayam.
Melalui hasil produksi telur setiap hari, keluarga memiliki akses terhadap sumber protein hewani yang lebih mudah sekaligus mendukung perbaikan gizi anak dan ibu hamil.
Selain ayam petelur, masyarakat juga didorong memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun gizi yang ditanami berbagai komoditas sayuran untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.
Staf Ahli Bupati Kubu Raya, Hefmi Rizal, mengapresiasi inovasi yang dikembangkan Program PASTI. Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat seperti ini mampu memperkuat edukasi sekaligus menjadi penunjang program pemerintah daerah dalam mempercepat penurunan stunting.
“Kehadiran Program PASTI memberikan edukasi langsung kepada masyarakat hingga tingkat Posyandu. Ini sangat penting karena membangun kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam mencegah stunting,” katanya.
Program PASTI merupakan kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PT Bank Central Asia Tbk melalui Bakti BCA, dan diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia.
Selain mengembangkan inovasi pangan berbasis desa, Program PASTI juga memperkuat kapasitas kader, Pos Gizi DASHAT, edukasi keluarga, hingga pendampingan remaja sebagai bagian dari upaya membangun sistem pencegahan stunting yang berkelanjutan di Kabupaten Kubu Raya.
Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya dilakukan di dalam keluarga.
“Pengentasan stunting bukan sekadar permasalahan internal keluarga. Faktor seperti akses terhadap pangan bergizi dan pernikahan usia anak juga menjadi perhatian. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini,” pungkasnya.










