PONTIANAK, AKCAYA – Pengurus Provinsi (PP) PGRI Kalimantan Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas guru melalui Webinar Nasional bertajuk “Penguatan Peran Guru Perempuan: Pendidikan Responsif Gender, STEM Inklusif, dan Implementasi UU TPKS di Satuan Pendidikan”.

Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal YouTube PP PGRI Kalbar pada 18 Juni 2026 itu menjadi ruang diskusi penting bagi para pendidik untuk membangun lingkungan belajar yang lebih setara, aman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik.

Webinar dibuka oleh Ketua PP PGRI Kalbar, Muhamad Firdaus, yang diwakili Wakil Ketua III PP PGRI Kalbar, Zaenuddin. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa isu kesetaraan gender dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan merupakan bagian dari tanggung jawab profesi guru yang harus mendapat perhatian serius.

“Peran guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memastikan ruang belajar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta didik,” ujarnya.

Webinar menghadirkan dua narasumber nasional, yakni praktisi STEM, Tio Magdalena Manurung, serta Ketua Komnas Perempuan RI periode 2020–2025, Andy Yentriyani.

Dalam paparannya, Tio Magdalena Manurung menjelaskan bahwa pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi salah satu strategi pembelajaran yang mampu membekali peserta didik menghadapi tantangan era industri dan perkembangan teknologi.

Namun, ia menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan di bidang STEM. Menurutnya, hanya sekitar 12 persen lulusan bidang STEM merupakan perempuan.

“Masih ada anggapan bahwa bidang STEM identik dengan laki-laki. Padahal setiap anak memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan menjadi pemecah masalah,” katanya.

Tio menyebut sejumlah faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi perempuan di bidang STEM, mulai dari stereotip gender, minimnya figur perempuan dalam bidang sains dan teknologi, hingga tingginya beban domestik yang kerap dialami perempuan sejak usia remaja.

Karena itu, ia mendorong penerapan pembelajaran STEM yang responsif gender melalui pembagian peran yang setara dalam kegiatan belajar, pemberian akses yang sama terhadap teknologi, hingga menghadirkan sosok ilmuwan perempuan sebagai inspirasi bagi peserta didik.

“Tujuan STEM bukan hanya mencetak pemecah masalah, tetapi memastikan semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemecah masalah,” tegasnya.

Sementara itu, Andy Yentriyani menyoroti pentingnya pendidikan responsif gender sebagai salah satu instrumen untuk menciptakan keadilan sosial dan mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Ia menjelaskan bahwa masih banyak stereotip gender yang tanpa disadari memengaruhi pola pikir dan praktik pembelajaran di sekolah. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berkontribusi terhadap munculnya diskriminasi hingga kekerasan berbasis gender.

Andy juga mengulas implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) di satuan pendidikan sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi seluruh peserta didik.

“Sekolah harus menjadi ruang yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Guru memiliki peran penting dalam membangun budaya yang menghormati kesetaraan dan melindungi hak setiap anak,” jelasnya.

Melalui webinar ini, PGRI Kalbar menegaskan perannya sebagai organisasi profesi yang tidak hanya fokus pada peningkatan kompetensi pedagogik guru, tetapi juga aktif mengawal isu-isu strategis pendidikan, termasuk kesetaraan gender dan perlindungan peserta didik dari kekerasan seksual.

Kegiatan ini diharapkan menjadi bekal bagi para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adil, aman, dan inklusif di lingkungan sekolah.

Rekaman webinar dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube PP PGRI Kalbar, @pppgrikalbar2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *