PONTIANAK, AKCAYA – Halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Asih Pontianak tampak lebih semarak dari biasanya pada Sabtu (13/6/2026). Puluhan siswa berkebutuhan khusus mengenakan seragam pramuka lengkap dengan wajah penuh antusias mengikuti Perkemahan Satu Hari (Persari) 2026.

Sebanyak 31 siswa SLB dari Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Mempawah berkumpul dalam kegiatan yang menjadi perkemahan bersama anak berkebutuhan khusus pertama di Kalimantan Barat.

Mengusung tema “Membangun Kemandirian, Kebersamaan, dan Karakter Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Melalui Kegiatan Kepramukaan”, Persari 2026 menjadi ruang belajar yang inklusif bagi para peserta untuk mengembangkan kemandirian, keberanian, serta kemampuan bersosialisasi.

Perwakilan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat, Angga Prihatin, yang bertindak sebagai pembina upacara pembukaan, menegaskan bahwa pendidikan kepramukaan merupakan wadah pembentukan karakter yang dapat diakses oleh seluruh anak tanpa terkecuali.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata bahwa pendidikan kepramukaan bersifat inklusif. Pramuka bukan hanya milik mereka yang sempurna secara fisik, tetapi milik seluruh peserta didik tanpa terkecuali,” ujarnya.

Menurut Angga, melalui kegiatan kepramukaan, peserta tidak hanya mempelajari keterampilan teknis, tetapi juga memperoleh nilai-nilai kehidupan yang penting untuk masa depan.

“Mereka belajar tentang kemandirian, kepercayaan diri, gotong royong, dan persaudaraan. Nilai-nilai ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi kehidupan mereka,” tambahnya.

Persari ini merupakan hasil kolaborasi Kelompok Belajar (Kombel) Wilayah 1 yang melibatkan SLB di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Elly Leo Fara, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari semangat bersama para pengawas dan kepala sekolah untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

“Kami ingin menciptakan ruang bagi siswa SLB untuk mengekspresikan diri di luar kelas. Persari ini menjadi wadah agar mereka memiliki pengalaman sosial yang lebih luas sekaligus memperkuat rasa percaya diri,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta didampingi 28 guru pendamping yang berperan memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan menyenangkan.

Berbagai aktivitas edukatif disiapkan untuk peserta. Mulai dari registrasi dan pemasangan tenda, permainan puzzle pengenalan lambang pramuka, hingga kegiatan mengenal lingkungan dan alam sekitar.

Salah satu aktivitas yang menarik perhatian adalah sesi tali-temali. Pada pos ini, peserta tidak hanya diajarkan membuat simpul pramuka, tetapi juga belajar mengikat tali sepatu secara mandiri.

Kegiatan sederhana tersebut menjadi pengalaman berharga bagi peserta karena mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus melatih kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta juga mengikuti edukasi pertanian dengan mengenal berbagai jenis tanaman serta praktik menanam secara langsung.

Suasana semakin meriah saat sesi pentas seni dan ekspresi diri. Para siswa tampil menyanyi dan menari di hadapan teman-temannya. Tepuk tangan dan sorakan dukungan dari peserta lain menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Kepala SLB Dharma Asih Pontianak, Danang Isnawan, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik.

“Melihat senyum dan semangat mereka hari ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Harapannya setelah kembali ke rumah, mereka semakin mandiri dan lebih berani bersosialisasi dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Persari SLB 2026 menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa ketika diberikan ruang, kesempatan, dan dukungan yang tepat. Di balik berbagai keterbatasan yang dimiliki, tersimpan semangat besar untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi bagian dari masyarakat yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *