PONTIANAK, AKCAYA – Ayam tukong, unggas lokal khas Kalimantan Barat (Kalbar) yang dikenal tidak memiliki ekor, kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indonesia kategori sumber daya genetik.

Pencatatan tersebut dilakukan Kementerian Hukum melalui Surat Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal Nomor SDG612026000684 yang diterbitkan 6 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) menjadi pemohon sekaligus komunitas asal.

Kepala Bidang Peternakan Disbunnak Kalbar, Novi Salim, mengatakan pencatatan itu penting untuk memperkuat perlindungan terhadap ayam tukong sebagai sumber daya genetik asli daerah.

Advertisement

“Pencatatan ini menjadi langkah penting dalam perlindungan, pelestarian, pengembangan, serta pemanfaatan sumber daya genetik lokal agar memiliki nilai strategis bagi masyarakat dan daerah,” kata Novi, Jumat (21/8/2026).

Ayam tukong diketahui berasal dari sejumlah wilayah Kalimantan Barat, terutama Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Mempawah. Unggas ini juga ditemukan di berbagai daerah lain, seperti Sambas, Singkawang, Pontianak, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu.

Pelaksana Tugas Kepala Disbunnak Kalbar, Rino Anteno Tengo, mengatakan pengakuan tersebut dapat memperkuat upaya menjaga plasma nutfah lokal sekaligus membuka peluang pengembangan ayam tukong untuk kepentingan penelitian dan ekonomi masyarakat.

“Pencatatan ini semakin mendorong pelestarian plasma nutfah lokal, pengembangan sumber daya genetik hewan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pembangunan peternakan berkelanjutan di Kalbar,” ujarnya.

Surat pencatatan KIK ayam tukong diterima Rino dalam rangkaian peringatan Hari Pengayoman ke-81 di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kalbar, Rabu (19/8/2026).

Ayam tukong memiliki ciri paling menonjol berupa tidak adanya tulang ekor sehingga unggas ini tidak memiliki bulu ekor. Bentuk tubuhnya menyerupai ayam kampung, dengan kepala relatif kecil dan jengger berbentuk bunga. Warna bulunya beragam, antara lain merah, kuning, hitam, cokelat, dan putih.

Dalam pengetahuan lokal masyarakat adat, ayam tukong diyakini berasal dari persilangan ayam kampung dengan ayam tabulangking, yang dikenal sebagai ayam hutan lokal Kalimantan Barat.

Keunikan tersebut membuat ayam tukong menjadi salah satu plasma nutfah lokal yang bernilai untuk dikembangkan. Ayam tukong dewasa memiliki bobot sekitar 1,7–2,5 kilogram untuk jantan dan 1,2–1,7 kilogram untuk betina. Produksi telurnya berkisar 6–12 butir setiap periode bertelur dengan daya tetas yang cukup tinggi.

Ayam tukong juga telah menjadi objek sejumlah penelitian dan publikasi pada jurnal nasional maupun internasional. Dengan pencatatan sebagai KIK, keberadaannya mendapat pengakuan sekaligus dasar yang lebih kuat untuk pelestarian dan pengembangan sebagai sumber daya genetik khas Kalimantan Barat. (elp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *