Ketika Langit Berubah Pikiran, Sawah Menangis di Bawah Hujan yang Tak Diminta
Ada semacam keheningan yang berbeda di sawah-sawah Asia Tenggara akhir-akhir ini. Bukan keheningan damai yang biasa menyelimuti hamparan padi saat menjelang panen, melainkan keheningan yang lahir dari kepasrahan—ketika langit yang tadinya membakar bumi dengan kemarau panjang, tiba-tiba mencurahkan air tanpa ampun, dan para petani hanya bisa menatap tanaman yang mereka rawat dengan penuh harap, kini terendam dalam genangan yang membusukkan akar-akar kehidupan.
Inilah paradoks iklim yang sedang menghantam lumbung padi dunia. Setelah dilanda musim panas yang kering dan membara, Asia Tenggara kini diterjang musim penghujan yang datang begitu tiba-tiba dan ekstrem, membawa konsekuensi yang menghancurkan: kegagalan panen di mana-mana, dari Aceh hingga Songkhla, dari Pandeglang hingga Kedah.
Krisis pangan bukan lagi bayangan di ujung cakrawala—ia sudah berdiri di depan pintu, mengetuk dengan keras.
Di Kabupaten Pandeglang, Banten, Sungai Cilemer meluap setelah curah hujan yang sangat tinggi mengguyur wilayah hulu. Sawah-sawah di Kecamatan Patia terendam selama empat hari empat malam.
Nasir, seorang petani setempat, hanya bisa pasrah. “Kalau yang sudah menguning masih mending. Tapi yang baru rampak, habis,” ujarnya, Minggu (21/12/2025).
Kerugian yang ia tanggung mencapai Rp25 hingga 30 juta—biaya pengolahan lahan, bibit, pupuk, dan traktor yang seolah menguap ditelan air.
Lebih jauh ke utara, di Sumatera Utara, angka-angka yang muncul bahkan lebih mengerikan. Sebanyak 38.878 hektare lahan pertanian rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor. Dari jumlah itu, 5.570 hektare di antaranya gagal panen total. Estimasi kerugian petani mencapai Rp1,132 triliun.
Sawah di Kabupaten Tapanuli Tengah bahkan berubah menjadi hamparan tanah setelah diterjang banjir, membutuhkan waktu dan biaya besar untuk kembali difungsikan.
Di Aceh Barat, sekitar 2.100 hektare lahan sawah yang telah ditanami rusak parah akibat banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11).
Sekitar 1.700 hektare di antaranya harus ditanami ulang karena mengalami gagal tanam. Sementara itu, di tiga provinsi di Sumatera, dari 27.000 hektar sawah yang terdampak banjir, seluas 385 hektar mengalami puso atau gagal panen.
Aceh bahkan terancam kekurangan pangan hingga tiga tahun ke depan akibat banjir yang tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga infrastruktur pertanian.
Air yang sama merusak juga mengalir deras di seberang perbatasan. Di Malaysia, hampir 12.000 hektare sawah di bawah naungan Muda Agricultural Development Authority (Mada) di Perlis dan Kedah terdampak banjir, menyebabkan kerugian hampir RM20 juta.
Sekitar 5.550 petani di kedua negara bagian itu terdampak. Banyak tanaman padi yang berumur antara tujuh hingga 45 hari, yang berarti petani kehilangan hasil panen yang seharusnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Di Sekinchan, Selangor—salah satu lumbung padi utama Malaysia—134 petak sawah musnah akibat ribut dan hujan lebat. Lebih dari 70 hingga 90 persen hasil tidak dapat dituai. Sektor sayur-sayuran juga tidak luput.
Kementerian Pertanian Malaysia melaporkan bahwa curah hujan berlebihan merusak tanaman, memperlambat siklus pertumbuhan, dan menghanyutkan input seperti benih, pupuk, serta pestisida. Sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, okra, dan kacang panjang mengalami penurunan hasil hingga 40–50 persen.
Thailand Selatan mengalami bencana yang bahkan lebih dahsyat. Curah hujan akumulatif mencapai 630 mm dalam tiga hari di Basin Kanal U-Tapao, melampaui rekor banjir tahun 2010 yang hanya 428 mm.
Lebih dari 806.000 rumah tangga terdampak, dengan lebih dari 2,2 juta orang mengalami kesulitan. Di Provinsi Songkhla saja, lebih dari 37.000 rai lahan pertanian rusak.
Industri udang di Thailand Selatan—yang biasanya menyumbang sekitar 11 persen dari produksi tahunan nasional, atau sekitar 270.000 hingga 280.000 ton udang—mengalami kerugian lebih dari 1 miliar baht (sekitar 31 juta dolar AS).
Sekitar 10.000 petambak udang terdampak, dengan nilai kerugian produksi saja mencapai sekitar 15,5 juta dolar AS, dan total dampak melampaui 31 juta dolar AS setelah memperhitungkan peralatan yang hancur, pakan yang hanyut, dan kolam yang rusak.
Ada semacam ironi pahit dalam data yang muncul. Indeks Harga Pangan FAO untuk tahun 2025 rata-rata 4,3 persen lebih tinggi dibanding tahun 2024.
Namun, Indeks Harga Beras FAO justru turun 35,2 persen dari tahun sebelumnya, mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, harga beras medium sempat melonjak pada Juli–Agustus 2025, bertahan 11,9 persen di atas harga eceran tertinggi yang direvisi.
Pemerintah terpaksa menggelontorkan 1,3 juta metrik ton dari cadangan strategis sebesar 3,95 juta metrik ton, mendistribusikan 365.000 metrik ton bantuan pangan, dan mengintensifkan Gerakan Pangan Murah.
Harga gabah di Thailand—yang tahun lalu masih di atas 10.000 baht per ton—kini jatuh di bawah 8.000 baht. Gabah basah dengan kadar air tinggi hanya dihargai 5.000–6.000 baht per ton, jauh di bawah biaya produksi petani yang mencapai 7.200–7.500 baht per ton.
Sementara itu, hasil per rai petani Thailand tetap yang terendah di ASEAN, hanya 370–600 kg per rai, dibandingkan Vietnam yang mencapai 800 kg per rai atau lebih.
Namun, di balik angka-angka itu, ada realitas yang lebih dalam: banjir telah merusak tanaman yang sudah ditanam, dan panen yang hilang tidak bisa digantikan oleh harga yang murah. Ketika sawah terendam, tidak ada beras yang bisa dipanen, berapapun harga pasar yang tertera.
El Niño, La Niña, dan Tarian Cuaca yang Mematikan
Apa yang sedang terjadi di Asia Tenggara bukanlah kebetulan. Ini adalah bagian dari pola cuaca global yang semakin tidak dapat diprediksi.
El Niño yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di awal tahun, diikuti oleh La Niña yang membawa curah hujan ekstrem, menciptakan apa yang oleh para ahli disebut sebagai “pukulan ganda” terhadap pertanian.
Produksi beras mentah Indonesia diperkirakan menurun 11,12 persen, setara dengan 20,68 juta ton, akibat dampak El Niño yang menyebabkan kekeringan. Vietnam, produsen terbesar kedua di Asia Tenggara, juga mengalami penurunan produksi dari 43,2 juta metrik ton pada 2020 menjadi 42,3 juta metrik ton pada 2025.
Filipina, pengimpor beras terbesar di dunia, memperkirakan produksinya dapat turun hingga 6 juta ton dari angka normal 19–20 juta ton.
Sementara itu, konflik di Timur Tengah telah mengganggu aliran bahan bakar dan pupuk melalui Selat Hormuz—gerbang vital yang menghubungkan kawasan Teluk ke pasar internasional—yang secara langsung memengaruhi petani di negara-negara pengekspor utama.
Di Thailand, harga pupuk telah meningkat dari 850 baht menjadi 1.000–1.200 baht per karung, memaksa banyak petani kecil mengurangi penggunaan pupuk hingga setengahnya, yang secara langsung mengurangi hasil panen.
Indonesia, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mengklaim telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025. Produksi beras nasional diklaim menembus 34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton, menghasilkan surplus 3,52 juta ton.
Cadangan beras pemerintah mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun, yakni 4,2 juta ton. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur stok beras dalam negeri sangat cukup, sehingga tahun ini kita tidak impor beras,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Namun, klaim swasembada ini tidak lepas dari kritik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia tetap mencatatkan impor beras jenis khusus dan kebutuhan industri sekitar 450 ribu ton sepanjang 2025.
Dan sementara pemerintah berbicara tentang surplus, di lapangan, ribuan hektare sawah terendam banjir, dan petani-petani kecil di Pandeglang, Aceh, dan Sumatera Utara menanggung kerugian yang tidak bisa ditutup oleh angka-angka statistik.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengalokasikan dana besar untuk ketahanan pangan. Dalam rancangan anggaran negara 2026, USD 10 miliar dialokasikan untuk program pangan dan USD 20,6 miliar untuk makan bergizi gratis, dengan tujuan meningkatkan ketahanan jangka panjang. Namun, pertanyaannya adalah: apakah alokasi ini cukup untuk menghadapi krisis yang sudah di depan mata?
Krisis pangan di Asia Tenggara bukanlah narasi tentang angka-angka di atas kertas. Ini adalah kisah tentang Nasir di Pandeglang yang kehilangan Rp30 juta dalam semalam. Ini adalah tentang petani di Sekinchan yang menyaksikan 90 persen padinya musnah. Ini adalah tentang 10.000 petambak udang di Thailand Selatan yang kehilangan mata pencaharian. Ini adalah tentang 2,2 juta orang di Thailand Selatan yang berjuang melewati banjir yang melampaui rekor 2010.
Langit mungkin tidak bisa kita kendalikan. Tapi bagaimana kita merespons—dengan kebijakan yang berpihak pada petani, dengan investasi dalam infrastruktur irigasi yang tahan iklim, dengan sistem peringatan dini yang menyelamatkan panen sebelum air datang—itulah yang masih dalam kendali kita.
Sawah-sawah di Asia Tenggara sedang menangis. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mendengar tangisan itu, melainkan apakah kita akan bangkit dan bertindak sebelum tangisan itu berubah menjadi kelaparan yang nyata. Krisis pangan sudah di depan mata. Waktunya bukan besok. Waktunya adalah sekarang.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











