PONTIANAK, AKCAYA – Titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalimantan Barat tercatat nihil per 28 Oktober 2026. Meski demikian, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diantisipasi karena hujan diperkirakan belum merata di seluruh wilayah.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya mengapresiasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat saat rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalbar pada Jumat (23/10/2026). Rapat berlangsung di Data Analytic Room, Kantor Gubernur Kalbar, dan diikuti secara daring oleh Gubernur Kalbar Ria Norsan bersama jajaran pemerintah daerah serta Kapolda Kalbar Irjen Pol Albert Teddy Benhard Sianipar.

Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, BPBD, Manggala Agni, petugas lapangan, relawan, hingga masyarakat. Upaya pemadaman, pendinginan, dan pemantauan dilakukan untuk mencegah api meluas serta mengantisipasi kebakaran berulang.

Advertisement

Gubernur Ria Norsan mengatakan kondisi karhutla yang membaik perlu dipertahankan melalui kerja sama seluruh pihak.

“Perkembangan kondisi karhutla di Kalimantan Barat saat ini sangat baik. Kita berharap kondisi ini dapat terus dipertahankan melalui kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat. Jangan sampai upaya yang telah kita lakukan bersama menjadi sia-sia karena kelalaian dalam menjaga lingkungan,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Norsan juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan kerja sama berbagai pihak dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Selain pemantauan dan kesiapsiagaan, pemerintah mendorong sosialisasi mengenai pengelolaan serta pembukaan lahan yang bertanggung jawab, sesuai ketentuan dan kearifan lokal. Masyarakat juga diingatkan agar tidak melakukan pembakaran yang berisiko memicu kebakaran baru dan segera melapor kepada petugas jika menemukan indikasi karhutla.

Berdasarkan prakiraan BMKG pada 27 Oktober 2026, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalbar pada periode 27 Oktober hingga 2 November 2026. Namun, curah hujan diperkirakan tidak merata. Sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami kondisi yang mendukung terjadinya karhutla hingga 2 November.

Karena itu, nihilnya hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi belum berarti ancaman karhutla sepenuhnya berakhir. Deteksi dini, pemantauan lapangan, edukasi masyarakat, dan respons cepat tetap diperlukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus menjaga koordinasi serta meningkatkan kewaspadaan agar kondisi yang membaik dapat dipertahankan dan risiko kebakaran kembali ditekan. (elp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *