PONTIANAK, AKCAYA – Karang Taruna Kota Pontianak bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Forum Komunikasi Hijau (FKJ) mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Langkah tersebut diwujudkan melalui bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan sampah berkelanjutan yang digelar di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Edelweis, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan ini secara khusus melibatkan anak-anak muda sebagai peserta. Mereka diberikan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna.

Advertisement

Selain mendapatkan materi, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai peralatan yang dapat digunakan untuk mendukung praktik pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

Ketua Karang Taruna Kota Pontianak, Muhammad Irfan Oktodiar mengatakan, keterlibatan generasi muda diharapkan tidak berhenti pada peserta bimtek. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Pesertanya anak-anak muda semua. Kami di bimtek tentang sampah rumah tangga bisa dikelola lebih tepat dan sudah disediakan alat-alatnya. Ini kolaborasi yang baik yang bisa berdampak hasilnya untuk anak-anak muda, bisa memberikan contoh untuk lingkungannya dan masyarakat luas,” ujar Irfan.

Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teori. Mereka juga akan mengikuti praktik secara langsung sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peralatan pendukung pengelolaan sampah juga akan dibagikan kepada peserta. Harapannya, praktik yang dipelajari selama bimtek dapat terus dilakukan setelah kegiatan berakhir, terutama di lingkungan rumah masing-masing.

Irfan menilai pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. Salah satunya dengan membiasakan masyarakat memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Sampah organik, misalnya, tidak harus langsung dibuang. Sampah jenis tersebut masih dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk mendukung kebutuhan tanaman.

“Harapan kita dengan kegiatan ini bisa membantu dari yang paling kecil dulu, yakni tingkat rumah tangga. Kita bisa memilah sampah, misalnya sampah organik itu tidak kita buang saja tetapi bisa kita kelola di rumah, misalnya untuk tanaman,” katanya.

Menurut Irfan, kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Perubahan tersebut memang dimulai dari hal sederhana. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan semakin banyak masyarakat, kebiasaan tersebut dinilai dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan.

Karena itu, generasi muda diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus penggerak di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya memahami cara mengelola sampah, tetapi juga mampu mengajak keluarga dan masyarakat sekitar untuk menerapkan kebiasaan serupa.

Irfan berharap kolaborasi antara Karang Taruna, generasi muda, Dinas Lingkungan Hidup dan berbagai pihak dapat terus berkembang. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan bersama.

“Ini kolaborasi yang baik yang bisa berdampak hasilnya untuk anak-anak muda, bisa memberikan contoh untuk lingkungannya dan masyarakat luas,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *