Di balik limbah dapur yang kerap terabaikan, tersimpan sebuah rahasia besar. Kulit singkong—yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah organik—menyimpan senyawa istimewa yang mampu menaklukkan si jago merah, meredam amukan api dengan cara yang elegan sekaligus revolusioner.
Inilah kisah ilmiah tentang bagaimana zat dalam kulit ubi kayu bekerja mematikan oksigen, memutus rantai api, dan mengubah paradigma pemadaman kebakaran dunia.
Lahir dari Kecelakaan yang Berharga
Kisah ini bermula pada 1977 di sebuah laboratorium University of London. Seorang mahasiswa Teknik Mesin asal Surabaya bernama Randall Hartolaksono tengah meneliti saripati kulit singkong sebagai bahan pelumas untuk engsel robot.
Tanpa sengaja, cairan ekstraksi itu tumpah ke atas nyala api laboratorium. Alih-alih menyulut kobaran lebih besar, api justru padam seketika.
Fenomena itu mengubah arah hidupnya. Di bawah bimbingan Profesor Evans, Randall mengalihkan fokus risetnya untuk mengungkap misteri di balik kulit singkong.
Butuh waktu hampir 10 tahun dan biaya mencapai Rp10 miliar untuk menyempurnakan formula tersebut. Pengorbanan itu melahirkan teori yang kini dikenal dunia: Teori Pemutusan Rantai Kimia.
Zat Aktif: Tripotasium Sitrat
Apa sebenarnya yang terkandung dalam kulit singkong? Jawabannya adalah tripotasium sitrat (tripotassium citrate), garam kalium dari asam sitrat yang memiliki rumus kimia C₆H₅K₃O₇·H₂O dalam bentuk monohidratnya.
Senyawa ini memiliki karakteristik istimewa: berbentuk serbuk putih granular, tidak berbau, larut sempurna dalam air, dan yang terpenting—bersifat non-toksik. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) bahkan mengklasifikasikan tripotasium sitrat sebagai bahan yang Generally Recognized As Safe (GRAS) tanpa batasan kuantitas penggunaan.
Zat yang sama ini juga digunakan dalam formula susu bayi, produk farmasi, dan minuman ringan sebagai sumber kalium dan pengontrol pH.
Mematikan Oksigen, Memutus Rantai Api
Bagaimana cara kerja zat ini melawan api? Ilmuwan menjelaskan bahwa tripotasium sitrat bekerja pada level molekuler yang paling fundamental: memutus reaksi kimia berantai dalam proses pembakaran.
Saat kebakaran terjadi, terjadi lompatan energi elektron di lapisan terluar atom, menciptakan reaksi berantai yang terus menyulut api. Tripotasium sitrat mengintervensi proses ini dengan cara:
1. Mencegah lompatan energi elektron melewati titik kritis, sehingga rantai reaksi pembakaran terputus.
2. Menurunkan temperatur secara drastis di titik api tanpa menghasilkan asap tambahan.
3. Membentuk lapisan kristal garam tipis di permukaan bahan yang dilindungi, yang bertahan dan mencegah penyalaan ulang.
Hasil uji eksperimen menunjukkan bahwa tripotasium sitrat efektif memperlambat tahap penyalaan api dengan kehilangan massa bahan hanya 0,67–0,97 gram dan persentase area terbakar 17,54–23,85%. Kombinasinya dengan asam sitrat menghasilkan perlambatan yang lebih signifikan pada tahap pertumbuhan api.
Keampuhan produk berbasis kulit singkong ini telah diakui dunia. Sertifikasi uji standar dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah diraih. Produk Randall digunakan untuk melindungi situs-situs strategis kelas dunia, termasuk Istana Buckingham di Inggris.
Perusahaan raksasa seperti Ford, Petronas, dan Proton pun beralih menggunakan bahan ramah lingkungan ini sebagai pengganti halon.
Namun, ada ironi pahit. Di Indonesia, inovasi ini justru tersandung regulasi dan dinyatakan tidak memenuhi sertifikat uji standar nasional.
Randall Hartolaksono kini membangun kerajaan bisnisnya—Hartindo Chemicatama Industri—dengan pabrik di Malaysia, Singapura, Taiwan, Inggris, dan Thailand, sementara karya anak bangsa ini terhambat di tanah air sendiri.
Kini, di tengah kebakaran hutan dan lahan yang rutin melanda Indonesia, Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam berbasis singkong dengan konsep “ubi bombing”—alternatif dari water bombing yang selama ini digunakan.
Temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau yang menggunakan tepung ubi untuk memisahkan unsur-unsur pendukung pembakaran mulai diuji dalam skala lebih besar.
Dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diharapkan mampu membawa inovasi ini dari laboratorium ke lapangan, dari pengakuan global menjadi solusi nyata bagi negeri sendiri.
Kulit ubi kayu mengajarkan kita satu hal: kebesaran sering lahir dari hal-hal yang dianggap remeh. Sebuah limbah, kecelakaan laboratorium, dan kegigihan seorang ilmuwan telah melahirkan terobosan yang menyelamatkan istana kerajaan, pabrik otomotif, dan kini—berpotensi menyelamatkan hutan-hutan Indonesia.
Di tengah darurat kebakaran yang setiap tahun mengancam lahan dan nyawa, jawabannya mungkin bukanlah teknologi canggih dari luar, melainkan kearifan yang selama ini tergeletak begitu saja di dapur-dapur kita.
Kulit singkong, sang penakluk api, menunggu untuk diangkat martabatnya—dari limbah menuju peradaban yang lebih aman dan lestari.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











