“Peradaban besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang menguasai sumber daya alam, tetapi oleh mereka yang mampu mengubah imajinasi menjadi nilai, kreativitas menjadi inovasi, dan inovasi menjadi kesejahteraan”
Kalimantan Barat telah lama dikenal sebagai tanah yang kaya. Hutan tropisnya menyimpan kehidupan, sungai-sungainya menghubungkan peradaban, lautnya membuka jalur perdagangan, sementara perut buminya mengandung beragam komoditas bernilai tinggi.
Namun, sejarah ekonomi modern mengajarkan satu pelajaran penting: kekayaan alam tidak akan pernah cukup untuk memenangkan masa depan. Bangsa dan daerah yang bertahan adalah mereka yang mampu mengubah kekayaan intelektual menjadi kekuatan ekonomi.
Di sinilah ekonomi kreatif menemukan relevansinya.
Ekonomi kreatif bukan sekadar sektor usaha baru. Ia adalah cara berpikir baru. Ia mengubah ide menjadi produk, budaya menjadi identitas ekonomi, teknologi menjadi peluang, dan kreativitas menjadi sumber pendapatan yang tidak pernah habis digali.
Bagi Kalimantan Barat, ekonomi kreatif bukan lagi pilihan pelengkap, melainkan kebutuhan strategis.
Ketika dunia bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), daerah yang hanya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam akan semakin tertinggal.
Sebaliknya, daerah yang berhasil membangun ekosistem kreativitas akan menjadi pusat pertumbuhan baru.
Data memperlihatkan bahwa optimisme tersebut memiliki dasar yang kuat. Perekonomian Kalimantan Barat sepanjang tahun 2025 tumbuh sekitar 5,39 persen, dengan nilai PDRB mencapai lebih dari Rp328 triliun, menunjukkan fondasi ekonomi daerah yang semakin kokoh untuk mendorong sektor-sektor baru, termasuk ekonomi kreatif.
Secara nasional, ekonomi kreatif juga menunjukkan peran yang semakin strategis. Pada tahun 2025, sektor ini menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja, atau hampir 18,7 persen dari seluruh tenaga kerja Indonesia.
Kontribusinya terhadap perekonomian nasional bahkan telah mencapai sekitar Rp1.500 triliun, menjadikannya salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang paling dinamis.
Angka-angka tersebut menyampaikan satu pesan sederhana namun sangat kuat: masa depan pekerjaan semakin ditentukan oleh kreativitas, inovasi, dan kemampuan menciptakan nilai tambah.
Bagi generasi muda Kalimantan Barat, peluang itu terbuka sangat lebar. Kekayaan budaya Melayu, Dayak, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Madura; seni tenun dan Anyama, kuliner tradisional, musik, kerajinan tangan, fotografi, film, animasi, gim digital, desain grafis, fesyen, hingga pemasaran digital merupakan modal yang tidak dimiliki semua daerah.
Jika dipadukan dengan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan perdagangan elektronik, seluruh potensi tersebut dapat menembus pasar nasional bahkan global.
Yang dibutuhkan bukan hanya pelatihan, tetapi pembangunan ekosistem. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pelaku kreatif, perguruan tinggi menjadi pusat inovasi, dunia usaha membuka ruang kolaborasi, lembaga keuangan memperluas akses pembiayaan, dan komunitas kreatif menjadi rumah bagi lahirnya talenta-talenta baru.
Lebih dari itu, sudah saatnya orientasi pendidikan bergeser dari sekadar mencetak pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
Generasi muda tidak cukup dibekali ijazah, tetapi harus dipersenjatai dengan kreativitas, literasi digital, kemampuan berwirausaha, kepemimpinan, dan keberanian berinovasi.
Kalimantan Barat sesungguhnya sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Pilihannya jelas: tetap bergantung pada ekonomi lama yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas, atau melompat menuju ekonomi masa depan yang bertumpu pada kreativitas manusia.
Bangkit dengan karya bukanlah slogan kosong. Ia adalah strategi pembangunan. Ketika ribuan anak muda Kalimantan Barat mampu menciptakan produk digital, film, musik, fesyen, kuliner, kerajinan, aplikasi, maupun konten kreatif yang bernilai ekonomi tinggi, maka yang sedang mereka bangun bukan hanya usaha pribadi.
Mereka sedang membangun daya saing daerah, memperluas lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang menunggu kesempatan. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang berani menciptakan kesempatan.
Dan generasi muda Kalimantan Barat memiliki semua syarat untuk menjadi pemenangnya.
Kini saatnya Kalimantan Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga sebagai provinsi yang melahirkan generasi kreatif, inovatif, produktif, dan berdaya saing global.
Karena pada akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari sebuah karya.
Sharing Ide: Mulyadi Tawik, SE., ME
Alumni Universitas Tanjungpura / Ketua DPW PKB Kalbar










