KETAPANG, AKCAYA – Sebanyak delapan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Jumat (9/10/2026). Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang kehilangan habitat dan terancam akibat kebakaran.

Translokasi tersebut dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar, KPH Ketapang Utara, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Proses ini juga melibatkan masyarakat, unsur TNI-Polri, dan pemangku adat.

Delapan orangutan tersebut terdiri atas tiga pasangan induk dan anak serta dua individu jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.

Advertisement

Kebakaran telah merusak habitat dan memutus jalur penghubung antarkawasan hutan. Akibatnya, sejumlah orangutan terjebak di perkebunan warga dengan sumber pakan terbatas dan berisiko mengalami konflik dengan manusia.

Sebelum dipindahkan, seluruh orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan medis sesuai kebutuhan, dan observasi di pusat rehabilitasi YIARI di Sungai Awan, Ketapang. Setelah dinyatakan sehat dan masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar, mereka dibawa menuju lokasi pelepasliaran.

Perjalanan menuju titik pelepasan ditempuh melalui jalur darat sekitar enam jam, dilanjutkan dengan perahu selama satu jam dan berjalan kaki sekitar dua jam. Pelepasan dilakukan secara bertahap mulai pukul 12.00 WIB dengan tetap memperhatikan kondisi satwa dan meminimalkan interaksi dengan manusia.

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, mengatakan pemilihan lokasi translokasi dilakukan berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis.

“Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung, kita dihadapkan pada situasi sulit. Banyak orangutan kehilangan habitatnya, sementara kawasan hutan yang aman untuk menampung mereka semakin terbatas,” ujarnya, Minggu (11/10).

Ia menjelaskan, Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih karena memiliki sumber pakan, sumber air, ruang jelajah, serta keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya. Kawasan tersebut juga dinilai relatif aman dari kebakaran.

“Namun, translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa agar semakin banyak orangutan tidak kehilangan rumahnya,” katanya.

Argitoeranting menambahkan, masih banyak orangutan terdampak karhutla yang menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI. Sebagian mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lainnya sehingga belum memungkinkan untuk dipindahkan ke habitat alami.

CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez, mengatakan pelepasliaran menjadi kesempatan bagi orangutan yang telah diselamatkan untuk kembali hidup bebas di alam.

“Ini adalah momen yang sangat membahagiakan bagi kami, karena orangutan liar seharusnya hidup bebas di habitat alaminya, bukan terkurung di kandang,” ujarnya.

Meski demikian, Karmele menegaskan perlindungan habitat tetap menjadi prioritas utama. Menurutnya, translokasi merupakan langkah yang harus ditempuh ketika habitat asal tidak lagi aman bagi satwa.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyebut pihaknya bersama YIARI telah menyelamatkan 46 individu orangutan terdampak karhutla sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026.

“Hari ini, untuk pertama kalinya, orangutan yang terdampak karhutla mulai ditranslokasi ke habitat yang sesuai dan relatif aman dari risiko kebakaran, yaitu Hutan Lindung Batu Nyambu, setelah dinyatakan sehat,” katanya.

Murlan menegaskan, upaya konservasi tidak berhenti pada penyelamatan dan pemindahan satwa, tetapi juga membutuhkan perlindungan habitat yang berkelanjutan. Ia mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaan orangutan terdampak karhutla serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan.

Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, mengatakan Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih setelah melalui kajian sosial dan habitat bersama YIARI. Menurutnya, orangutan merupakan spesies kunci yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

“Translokasi ini bukan sekadar pemindahan fisik satwa, melainkan bagian dari mitigasi risiko jangka panjang dan strategi penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di habitat aslinya,” ujarnya.

Ia berharap pengamanan kawasan melalui patroli rutin terus diperkuat setelah translokasi. Selain itu, penanaman pohon penghasil bunga dan buah perlu diperbanyak untuk mendukung ketersediaan pakan orangutan di kawasan tersebut. (elp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *