SEKADAU, AKCAYA – Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi Hartini, Owner Molila Cookies di Kabupaten Sekadau. Ketika aktivitas pasar menurun, ia memilih memutar strategi dengan merintis usaha kue kering dari rumah.
Berbekal peralatan sederhana, Hartini mulai memproduksi kue kering, khususnya nastar. Perlahan, usaha yang dirintis dari dapur rumah itu berkembang hingga mampu melayani pesanan dari luar daerah dan kini memiliki outlet sendiri.
Molila Cookies beralamat di Jalan Pelajar, Sungai Ringin, Kabupaten Sekadau. Selain nastar yang menjadi produk andalan, usaha tersebut juga menyediakan berbagai kue kering lainnya seperti sultan, kacang goreng dan bakpia.
“Dari hikmah Covid kemarin, usaha kita di pasar agak menurun. Jadi kita putar otak, istilahnya. Kita bikin usaha baru dengan merintis kue kering, khususnya nastar. Awalnya sedikit-sedikit, akhirnya semakin banyak,” ujar Hartini.
Pada awal merintis usaha, Hartini hanya mengandalkan oven yang tersedia di rumah. Namun, meningkatnya permintaan membuat kapasitas produksi tidak lagi mencukupi.
Terlebih, Molila Cookies mulai menerima pesanan dari luar kota. Kondisi itu mendorong Hartini mencari tambahan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Kesempatan tersebut datang melalui pembiayaan Kredit Usaha Mikro (KUM) dari Bank Kalbar sebesar Rp5 juta. Dana tersebut digunakan Hartini untuk membeli oven dengan kapasitas lebih besar.
“Waktu itu kita dibantu Bank Kalbar dengan biaya KUM untuk UMKM. Kita dapat Rp5 juta dan kita beli oven yang lebih besar daripada oven sebelumnya. Karena oven yang kita punya produksinya tidak bisa banyak, sedangkan permintaan sudah mulai meningkat dan ada permintaan kirim ke luar kota,” katanya.
Dari sana, perkembangan peralatan produksi terus dilakukan. Mixer yang sebelumnya berukuran kecil kini berkembang menjadi kapasitas sekitar 20 liter.
Jika awalnya hanya memiliki satu oven, kini Molila Cookies telah memiliki dua oven. Sementara mixer bertambah dari satu menjadi tiga unit.
“Dari alat-alat, oven dari satu bisa jadi dua. Mixernya dari satu bisa jadi tiga. Alhamdulillah, dengan bantuan alat pada awal mulanya itu, kita semakin berani untuk mengembangkan usaha agar lebih maju,” ujarnya.
Perkembangan Molila Cookies kini semakin terlihat dengan hadirnya outlet baru. Saat Hartini menyampaikan kesaksiannya, outlet tersebut baru beroperasi sekitar satu hingga dua hari.
Kehadiran outlet menjadi langkah baru bagi Hartini untuk memperluas pasar sekaligus memberikan kemudahan kepada pelanggan yang ingin membeli produk secara langsung.
Tidak hanya memperluas akses penjualan, Molila Cookies juga telah menyediakan pembayaran digital melalui QRIS. Pelanggan kini dapat bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai.
“Sekarang dengan adanya outlet Molila Cookies, masyarakat yang mau belanja, konsumen baru maupun yang sudah lama, tidak harus membawa uang cash. Kita sekarang sudah ada QRIS, jadi pembayarannya bisa ditap melalui QRIS,” tutur Hartini.
Dari sisi kualitas, Hartini juga memastikan produk yang dipasarkan memenuhi standar yang dibutuhkan konsumen. Nastar Molila Cookies telah memiliki izin BPOM dan sertifikasi halal.
“Dengan brand Molila Cookies, nastar yang diproduksi ini sudah memiliki izin BPOM. Kita juga sudah halal, sehingga produknya dijamin higienis dan kehalalannya,” katanya.
Bagi Hartini, dukungan pembiayaan menjadi salah satu faktor yang membantunya berani meningkatkan kapasitas usaha.
Ia berharap ke depan Molila Cookies dapat meningkatkan skala pembiayaan sesuai kebutuhan dan kelayakan usaha, termasuk naik dari skema KUM menuju Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Saya berharap nanti dari KUM kita bisa naik ke KUR,” ucapnya.
Hartini juga mengajak pelaku UMKM lainnya untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan modal.
Menurutnya, usaha dapat dibangun secara bertahap dengan memanfaatkan peluang pembiayaan yang tersedia.
“Untuk kawan-kawan UMKM, khususnya UMKM Center dan binaan Bank Kalbar, jangan berkecil hati. Seandainya belum mendapatkan bantuan, kita usaha lagi, ajukan lagi. Dari kecil sampai besar kita usahakan, supaya usaha kita bisa lebih luas,” ujarnya.
Dukungan terhadap UMKM menjadi salah satu bagian dari peran Bank Kalbar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain KUM, Bank Kalbar juga menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan sejumlah kategori pembiayaan sesuai kebutuhan dan kapasitas usaha pelaku UMKM.
Direktur Utama Bank Kalbar Rokidi mengatakan, dukungan terhadap UMKM tidak hanya berkaitan dengan penyaluran kredit, tetapi juga bagaimana perbankan dapat menjadi mitra pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
“Bank Kalbar akan terus berupaya memberikan layanan perbankan terbaik kepada masyarakat Kalimantan Barat, termasuk melalui pengembangan layanan dan dukungan terhadap aktivitas perekonomian daerah,” kata Rokidi.
Bagi Hartini, pembiayaan yang diterima merupakan modal awal yang harus diikuti kerja keras, pengelolaan usaha dan keberanian untuk terus berkembang.
Ia pun memiliki target agar Molila Cookies tidak hanya dikenal di Kabupaten Sekadau, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas di Kalimantan Barat.
“Harapan saya Molila Cookies bisa berkembang lebih maju, lebih besar. Semoga nanti kita bisa buka outlet selain dari rumah, bisa keluar lagi dan ke luar kabupaten, insyaallah sampai ke provinsi,” katanya.
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, Hartini menyebut dukungan keluarga sebagai salah satu kekuatan utama. Ia menyampaikan terima kasih kepada suaminya, Suardi, serta putrinya, Halila, yang turut menjadi bagian dari perjalanan Molila Cookies.
Bagi Hartini, kisah Molila Cookies membuktikan bahwa UMKM dapat tumbuh dari langkah sederhana. Dari sebuah oven di dapur rumah, kini usahanya berkembang dengan sejumlah peralatan produksi, legalitas produk, outlet dan sistem pembayaran digital.
“Kalau kita saling mendukung, maka UMKM bisa naik kelas,” ujarnya.
Perjalanan Molila Cookies masih panjang. Namun, dengan dukungan keluarga, kualitas produk, keberanian mengembangkan usaha dan akses pembiayaan yang tepat, Hartini optimistis nastar produksi Sungai Ringin tersebut dapat semakin dikenal di Sekadau hingga berbagai daerah di Kalimantan Barat.











