PONTIANAK, AKCAYA – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Ria Norsan, mendorong pemerataan dokter spesialis di seluruh kabupaten/kota di Kalbar sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Menurutnya, ketersediaan tenaga dokter spesialis masih menjadi tantangan yang dihadapi pemerintah daerah meski berbagai langkah telah dilakukan.
Hal tersebut disampaikan Norsan saat menghadiri pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (Arsada) di Hotel Novotel Pontianak, Kamis (11/6/2026).
Norsan mengatakan pemerintah provinsi terus berupaya mencari solusi agar layanan kesehatan di daerah dapat semakin merata. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah belum terpenuhinya kebutuhan dokter spesialis di sejumlah kabupaten dan kota.
“Untuk pemerataannya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun memang kita masih kekurangan dokter spesialis,” kata Norsan.
Sebagai langkah mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Kalbar telah menjalankan program hospital base dengan melibatkan rumah sakit dalam proses pendidikan dokter spesialis. Selain itu, pemerintah juga mendukung pembukaan program pendidikan dokter spesialis di Universitas Tanjungpura.
Saat ini, Untan telah membuka pendidikan dokter spesialis anestesi. Ke depan, program tersebut diharapkan dapat berkembang ke bidang lainnya seperti bedah dan jantung sehingga kebutuhan tenaga spesialis di Kalbar dapat lebih terpenuhi.
Menurut Norsan, peningkatan jumlah dokter spesialis sangat penting untuk memperkuat layanan rumah sakit daerah sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit rujukan utama.
Ia mengakui hingga saat ini RSUD Dr. Soedarso masih menjadi tujuan utama rujukan pasien dari berbagai wilayah di Kalbar. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas rumah sakit sering kali penuh, terutama pada layanan rawat inap.
“Permasalahannya sekarang sering penuh tempat tidurnya karena pasien dari mana-mana dirujuk ke Soedarso,” tambahnya.
Saat ini RSUD Soedarso memiliki sekitar 585 tempat tidur rawat inap dan kapasitas pelayanan dapat ditingkatkan hingga sekitar 680 tempat tidur.
Untuk mengurangi beban rumah sakit tersebut, Pemprov Kalbar telah meresmikan rumah sakit baru di Kabupaten Kubu Raya yang diharapkan dapat menjadi alternatif rujukan bagi masyarakat.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan Rakernas XVI Arsada di Pontianak. Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pengelola rumah sakit daerah dari seluruh Indonesia itu menjadi momentum penting untuk membahas berbagai tantangan layanan kesehatan, termasuk penguatan sumber daya manusia dan tata kelola rumah sakit.
“Kita bersyukur Kalbar dipilih menjadi tuan rumah. Selain membahas pengembangan rumah sakit daerah, kegiatan ini juga membantu memperkenalkan Kalbar kepada peserta dari berbagai daerah serta mendorong pergerakan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Arsada Kalbar yang juga Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan persoalan sumber daya manusia kesehatan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Rakernas XVI Arsada.
Selain itu, rumah sakit daerah juga masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas pelayanan di tengah tingginya jumlah pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Rakernas XVI Arsada yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 mengusung tema “Mewujudkan RSUD Unggul melalui Transformasi Tata Kelola serta Reformasi Pelayanan Berbasis Penguatan SDM dan Keuangan.”
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan rumah sakit daerah dari berbagai provinsi di Indonesia serta dirangkai dengan seminar, diskusi, dan pameran alat kesehatan. (elp)










