Sampai hari ini, air ledeng masih terasa payau. Sebelumnya malah asin. Itulah yang dirasakan warga Kota Pontianak. Setiap musim kemarau, ledeng pasti airnya asin. Pelanggan pun bertanya, “Apakah tidak ada teknologi bisa mengubah air laut menjadi air tawar?” Pertanyaan sederhana, tetapi menohok jantung kebijakan, mengapa persoalan berulang setiap tahun berulang, tak bisakah diakhiri?
Pontianak berada di muara Sungai Kapuas. Ketika kemarau datang, debit sungai melemah, air laut merangsek masuk, kadar klorida melonjak hingga 1.000–5.000 miligram per liter. Padahal, ambang disebut dalam naskah ini adalah 300 mg/L untuk air minum dan 600 mg/L untuk air bersih. Garam seperti penguasa datang tanpa mengetuk pintu, lalu berkuasa sampai ke kamar mandi rakyat.
PDAM Tirta Khatulistiwa memiliki kapasitas terpasang 2.050–2.340 liter per detik. Namun, pengolahan konvensional tidak dirancang untuk menyingkirkan garam terlarut. Akibatnya, warga mesti berhemat, bersabar, dan pasrah. Untuk menenangkan pelanggan, PDAM mengambil air tawar ke Desa Radak, Kubu Raya yang kadar garamnya di bawah 10 mg/L. Untuk apa? Untuk dibagikan ke warga. Warga pun harus antre panjang dapatkan air tawar.
Sementara itu, teknologi reverse osmosis (RO) sudah berkembang sejak 1960-an. Dengan tekanan 55–80 bar, membran semipermeabel mampu memisahkan garam dari air. Teknologi modern dapat menurunkan TDS air laut dari puluhan ribu ppm menjadi 10–50 ppm. Berkat perangkat pemulihan energi, konsumsi listrik pabrik modern turun dari 7–12 kWh menjadi 2,5–4 kWh per meter kubik, dengan biaya produksi sekitar US$0,40–0,80 per meter kubik.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel telah lama mengandalkan desalinasi. Negara-negara bergulat dengan gurun saja mampu mengubah air asin menjadi sumber kehidupan. Mengapa Pontianak harus terus mengulang drama sama setiap kemarau?
PDAM sudah memiliki unit seawater reverse osmosis (SWRO), tetapi kapasitasnya masih terbatas untuk keadaan darurat. Universitas Tanjungpura (Untan) juga menyiapkan perangkat RO bertingkat hasil riset Teknik Kelautan, terutama bagi rumah sakit yang memerlukan air hemodialisis dengan kadar garam di bawah 300–500 mg/L.
Artinya, pengetahuan dan teknologi bukan barang asing. Tantangannya ialah bagaimana menjadikannya solusi berskala nyata bagi masyarakat.
Waduk Penepat hanya mampu menyimpan air tawar sekitar tiga hari terus menjadi andalan. Usulan memperluas kapasitasnya hingga sepuluh kali lipat pun muncul. Namun, biaya produksi air RO yang pernah disimulasikan mencapai Rp20.000 per meter kubik, dibandingkan tarif rumah tangga Rp3.500–Rp5.000, menuntut perencanaan pembiayaan yang matang.
Jalan keluarnya perlu dikaji serius. Memperluas waduk, memanfaatkan brackish water RO untuk air payau, mengembangkan energi surya, serta menggandeng kampus dan industri. Perhitungan biaya, kebutuhan energi, dan pengelolaan limbah pekat harus transparan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan PDAM perlu duduk bersama, menetapkan target, anggaran, serta tenggat penyelesaian terukur.
Warga Pontianak tidak boleh terus-menerus menjadi korban kalender kemarau! Jangan biarkan anak-anak mandi dengan air asin, keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara solusi hanya berputar dalam rapat dan wacana.
Kemarau memang tidak bisa diperintah berhenti. Namun, penderitaan warga akibat air asin bukan takdir yang harus diterima setiap tahun. Para pengambil kebijakan, dengarkan suara keran rakyat! Setiap tetes air tawar adalah martabat, kesehatan, dan kualitas hidup manusia. Hentikan siklus tahunan ini. Jangan tunggu kemarau berikutnya datang membawa keluhan sama.
Pontianak tidak kekurangan air. Pontianak membutuhkan keberanian untuk mengubah masalah menjadi solusi. Jangan sampai garam selalu menang. Sementara rakyat terus diminta bersabar. Sudah waktunya air asin berhenti menjadi tradisi tahunan!
“Bang, saya rasa Pak Wali sudah tahu solusinya. Cuma, tak berani ngambil kebijakan. Paling keluhannya biaya. Gitu aja terus alasannya.”
“Hus, beliau itu orang baik. Kalau dikritik, takutnya ia marah, dikatakan merampot, dan tak mau diajak seruput kopi, wak!” Ups
Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar











