SAMBAS, AKCAYA – Dedikasi mengembangkan komoditas perkebunan membawa Dedi A. Khansa menjadi salah satu dari lima penerima penghargaan Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dedi merupakan inisiator Gerakan Tanam Kopi Liberika Sendoyan sekaligus penggerak hilirisasi produk turunan komoditas lada di Kabupaten Sambas. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya mengembangkan kopi liberika yang kini telah ditanam petani di wilayah Sendoyan dengan luasan lebih dari 100 hektare.

Penghargaan itu diterima Dedi di Gedung Garuda, Kantor Gubernur Kalbar, Senin (17/8/2026).

Advertisement

“Sangat bersyukur dan terima kasih atas penghargaan dari Gubernur Kalbar. Ini menjadi motivasi dan semangat bagi kami di Desa Sendoyan. Penghargaan ini saya persembahkan untuk petani Sendoyan dan para pihak yang mendukung penuh selama ini,” ujar Dedi.

Ia mengatakan, gerakan tanam tersebut digagas untuk mengembalikan kejayaan kopi di Sendoyan sekaligus menjadikan wilayah tersebut sebagai sentra kopi liberika di Kalbar.

Menurutnya, Sendoyan pernah dikenal sebagai salah satu sentra kopi sejak era 1970-an. Namun, seiring berjalannya waktu, luas perkebunan kopi terus menyusut hingga hanya tersisa beberapa hektare.

Kondisi tersebut mendorong Dedi bersama petani untuk kembali mengembangkan kopi liberika. Potensi lahan yang luas dan subur, ditambah permintaan pasar serta harga kopi liberika yang relatif tinggi, menjadi peluang yang dinilai sayang untuk dilewatkan.

“Kondisi ini menjadi perhatian untuk dikembalikan kejayaannya karena kesuburan lahan cocok, luas, dan permintaan kopi liberika serta harga tinggi. Sayang potensi ini kalau tidak ditangkap,” jelasnya.

Upaya tersebut kemudian diwujudkan melalui pembentukan Kelompok Tani (Poktan) Batu Layar Sejahtera sebagai percontohan. Program Gerakan Tanam Kopi Liberika Sendoyan resmi diluncurkan pada 2023 dan mendapat sambutan dari gabungan kelompok tani (gapoktan) serta petani setempat.

Pada tahap awal, petani menggunakan bibit lokal. Kemudian pada akhir 2024, gerakan tersebut semakin berkembang setelah mendapat dukungan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalbar serta BPTP Pontianak berupa bantuan bibit kopi liberika unggul atau bersertifikat dari Kementerian Pertanian RI.

“Mulai 2024 kami mulai semangat karena didukung Kementan soal bibit unggul. DJPB Kalbar dalam hal diskusi. Belum lagi di hulu dibantu Disbunnak Kalbar, Pemda Sambas, Pemdes Sendoyan, penyuluh dalam bimbingan teknis,” katanya.

Dukungan juga datang dari PLN UID Kalbar melalui pelatihan budidaya serta Bank Indonesia Kalbar yang membantu sarana dan prasarana pascapanen.

Tak hanya mendorong produksi, Dedi bersama para pihak juga mulai membangun pasar kopi liberika Sendoyan. Salah satunya melalui kerja sama dengan pelaku usaha kopi di Kota Pontianak, 101 Coffee House.

Kerja sama tersebut diharapkan memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani, sehingga posisi tawar petani semakin kuat dan kopi dapat menjadi alternatif sumber pendapatan yang meningkatkan kesejahteraan.

“Insyaallah dalam beberapa tahun ini hasil gerakan tanam bisa tampak atau produksi,” ujarnya.

Selain kopi liberika, Dedi juga aktif mendorong hilirisasi komoditas lada di Kabupaten Sambas. Salah satu produk yang dikembangkan yakni lada bubuk kemasan dengan merek Lada Batu Layar.

Produk tersebut dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan sekaligus mendorong kemandirian daerah dalam menyediakan produk olahan dari komoditas lokal.

“Atas inisiasi ini, produk lada bubuk alhamdulillah sudah menjadi bukan hanya produk unggulan desa, namun sudah menjadi produk unggulan Kabupaten Sambas melalui SK Bupati,” ungkapnya.

Dengan dukungan pemerintah desa dan berbagai pihak, usaha tersebut kemudian berkembang menjadi koperasi bernama Koperasi Srikandi Jaya Sambas.

Kolaborasi tersebut juga mendorong hadirnya Sentra IKM Lada Sambas di Desa Sendoyan. Sentra ini merupakan bagian dari amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi pada Kawasan Perbatasan Negara.

Bangunan sentra tersebut memiliki total pagu hampir Rp6 miliar dan diarahkan untuk memperkuat hilirisasi produk lada hingga memiliki skala produksi yang mendukung pasar ekspor.

“Saat ini kami terus maksimalkan potensi desa. Ini didukung banyak pihak mulai dari pemerintah pusat hingga desa,” tuturnya.

Terbaru, dukungan juga datang dari PLN UPT Pontianak dan UIP3B Kalimantan melalui pengembangan kebun integrasi kopi dan lada di Desa Sendoyan.

Sementara itu, Plt Kepala Disbunnak Kalbar Rino Anteno Tenggo menyampaikan apresiasi kepada lima penerima penghargaan Gubernur Kalbar di bidang perkebunan dan peternakan.

Dari lima penerima, tiga orang berasal dari bidang peternakan dan dua lainnya dari bidang perkebunan.

“Selamat dan sukses kepada penerima penghargaan yang terdiri dari tiga orang di bidang peternakan dan dua di bidang perkebunan. Ini tentu jadi motivasi untuk lebih maju,” kata Rino.

Ia menegaskan, penghargaan tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Para penerima akan terus didorong dan dibina agar kontribusi yang diberikan dapat memberikan dampak nyata serta berkelanjutan.

“Pesan Gubernur Kalbar, tidak berhenti di sini dan akan kita bina. Harapan kita untuk bersama-sama membangun Provinsi Kalbar,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *